My Journey
Hai hai hai!
Ami kembali update lagi dengan pengalaman perjalanan jauh Ami di daerah Berastagi, Sumatera Utara.
Ami kembali update lagi dengan pengalaman perjalanan jauh Ami di daerah Berastagi, Sumatera Utara.
Jadi pada sore hari (27/05), Ami lagi sibuk chattingan tuh di kamar. Maklumlah kerjaan remaja yang main roleplayer itu gimana. Tiba-tiba Ami dapat panggilan nih via WhatsApp dari wali kelas Ami, Miss Riri panggilannya. Ternyata Ami disuruh prepare buat riset tempat dan malam itu Ami harus menginap di kediaman kepala sekolah SMK. Waduh...kebayang ga sih rasanya.
Demi masa depan yang lebih cerah, Ami langsung bergegas tuh buat mempersiapkan apa yang Ami butuhkan. Setelah berusaha bujukin ayah, akhirnya Ami otw.
Demi Tuhan, kikuk banget pas memijakkan kaki di kediaman kepala sekolah sendiri. Tapi suasana yang kikuk mulai mencair karena Ami jatuh cinta sama kucingnya kepala sekolah yang bernama Meong huhuhu. Meong, i miss you ㅠㅠ
Fyi, Alhamdulillah banget Ami kepilih menjadi salah satu crew untuk sebuah program tv dan bertugas jadi penulis naskah. Ya walaupun masih terbilang buta, I'll try my best!
Setelah menunggu semua crew berkumpul, kita istirahat sebentar. Dan pukul 3 pagi tepat, semuanya langsung on the way ke Berastagi. Kami menyempatkan sahur sih disalah satu masjid dan itu...errr...dingin banget -__-
Kami pun melanjutkan perjalanan yang dimulai dari Gunung Sibayak. Sempat mengalami kendala karena motor yang dinaiki mendapat masalah, akhirnya kami mendaki ke Gunung Sibayak itu. Wah~ 대박
Setelah ke Gunung Sibayak, kami mengunjungi daerah Tanah Karo. Ehem, kalau dengar nama Tanah Karo pasti ga asing dong sama Gunung Sinabung? Kesempatan emas bagi Ami bisa masuk ke zona merah di daerah Gunung Sinabung.
Tapi sebelum Ami ke zona merah tersebut, Ami dan rekan lainnya berkunjung ke Desa Batukarang buat mengintip pengrajin tembakau untuk bahan suntil. 아이고야~ Ternyata orang disana ramah-ramah walaupun banyak anjing.
Setelah melakukan riset di Desa Batukarang Kecamatan Payung, Ami dan rekan lainnya otw ke zona merah Sinabung. Err..perbedaan suhu disana benar-benar drastis. Saat kalian menginjakkan kaki kalian ke zona merah tersebut, rasa panas akan menembus sepatu kalian. Itulah yang Ami rasakan.
Take some pic and video from that place, kami pun menelusuri lebih dalam zona merah tersebut guna menemukan pusat pos Gunung Sinabung. Ditengah perjalanan, kami menemukan sebuah sekolah dasar tak berpenghuni yang terbilang angker. Kalian bisa bayangkan bagaimana paniknya warga sekolah di SD tersebut sampai kalian menemukan buku-buku berserakan di halaman sekolah.
Rumput-rumput liar menyebarluas hampir menenggelamkan teras sekolah tersebut. Belum lagi kata Kak Pura, salah satu rekan Ami, ia menemukan sosok misterius disalah satu ruangan sekolah tersebut.
Akhirnya kami melanjutkan perjalanan sampai kami menemukan Pos Sinabung tersebut. Setelah melakukan wawancara, kami menancap gas menuju Danau Laurkawar yang tak berpenghuni.
Menurut kabar, Desa Laurkawar dikosongkan karena daerah tersebut terkena dampak erupsi Gunung Sinabung.
Airnya yang jernih dan menyegarkan berubah menjadi air yang keruh. Disekitar danau juga diselimuti dengan rumput-rumput liar nan tinggi. Area bermain dan ayunan kosong membuat suasana disana terbilang cukup menyeramkan.
Tak terasa matahari semakin tenggelam, kami bergegas menuju pusat Berastagi untuk kembali ke Medan. Sebelumnya, kami yang sedari tadi sedang berpuasa langsung berbuka puasa disalah satu tempat makan dipinggir jalan.
Tak lama-lama menikmati nikmatnya hidangan berbuka, kami harus buru-buru pulang sebelum hari semakin malam. Belum lagi bokong Ami yang keram karena terlalu lama duduk di sepeda motor membuat Ami ah– itu akan jadi yang pertama dan terakhir.
Akhirnya Ami tiba dirumah.
Ami langsung membaringkan tubuh Ami dikerasnya lantai keramik ruang TV sambil disambut saudara-saudara kandung Ami. Saat itu lampu sedang padam, jadi Ami malas sekali untuk mandi (walaupun pada akhirnya Ami harus mandi).
Perjalanan dalam sehari itu benar-benar tidak bisa Ami lupakan.
Mungkin itu akan jadi perjalanan yang paling melelahkan, namun berbagai cerita yang mengiringi perjalanan dari pukul 03.00 WIB sampai pukul 22.00 WIB lebih tersebut membuat persepsi Ami berubah dengan wisata Sumatera Utara yang kalah saing dengan daerah wisata di provinsi lainnya.
Ami berharap suatu saat nanti semua orang akan tahu dan merasakan bagaimana indahnya Sumatera Utara dan Ami bisa lega dengan respon mereka yang tidak kecewa dengan wisata di Sumatera Utara ini.
Horas!


Komentar
Posting Komentar