My Day

Jooyoung as Ray Kim




"Mie ayam baksonya sekarang udah 7k kalau di rupiahkan"

Ray masih berfikir tentang apa yang dikatakan Bapak penjual mie ayam bakso langganannya itu kepadanya. Sedih. Itulah yang Ray rasakan. Hatinya seperti dihunus pedang tajam.

"Kenapa harganya naik..." Ray memakan mie ayam baksonya dengan lesu.

Sekedar informasi, Bapak penjual mie ayam bakso langganan Ray adalah orang asli Indonesia yang merantau kerja di Korea Selatan. Dan beruntung bagi Ray, Bapak penjual mie ayam bakso itu berjualan tidak jauh dari apartemennya. Ray sudah lama berlangganan dengan bapak itu.

Walaupun sedih, namun Ray mampu menghabiskan mie ayam baksonya dengan kurun 30 menit.

Waktu yang paling lama untuknya makan makanan itu.

Sesudah memesan soft drink dan membayar porsinya, Ray berjalan menuju taman kota. Tidak jauh dari tempat tadi, jadi ia memutuskan untuk berjalan sembari membeli makanan ringan di pinggir jalan. Ya, seperti permen kapas atau lolipop. Ia butuh asupan.

Jika boleh jujur, tubuhnya sudah lelah karena habis perform sana sini. Namun ia malas untuk berdiam diri di apartemennya. Sepi.

Karena lelah berjalan, Ray duduk di salah satu bangku taman. Ia memperhatikan sekitarnya sambil menyantap permen kapasnya.
Ia menikmati permen kapasnya, sampai ketika,

"Kakak, bolehkah aku duduk disampingmu?"

Ray menatap gadis kecil yang berdiri di depannya.

"O-oh tentu saja" Ray menggeser sedikit sehingga gadis kecil itu tidak kesempitan.

"Terimakasih, kak" Gadis kecil itu tersenyum lalu duduk.

Suasana menjadi canggung. Lalu Ray mencoba membuka pembicaraan.
"Ingin permen kapas?" tanya Ray sembari menyodorkan permen kapas miliknya.

Sontak gadis kecil itu tersenyum dan mengambil beberapa bagian dari permen kapas itu.

"Terimakasih lagi, kakak" ucap gadis kecil itu.

"Eum...siapa namamu?" tanya Ray dengan nada lembut.

"Cho Yubin, nama kakak siapa?"
Ray tertegun. Ah mungkin anak ini tidak tau dia siapa. Dan lebih baik anak ini tidak mengetahui identitasnya yang sebenarnya adalah seorang artis.
"Nama kakak Ray Kim, panggil saja Ray" jawab Ray tersenyum.

"Nama kakak bagus~" ujar anak itu.
"Hahaha terimakasih Yubin. Ngomong-ngomong, dimana orang tuamu hm? Kenapa kamu sendirian?" tanya Ray.
Wajah Yubin langsung sedih.

"Hey..ada apa? Kakak salah bertanya ya?" tanya Ray dengan rasa penyesalan.

"Tidak kak, hanya saja..."
Ray mengernyitkan dahinya kebingungan.

"Orangtua ku terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka, dan aku sering bermain sendirian." ucap Yubin.
Seketika Ray tertegun. Masih adakah orang tua yang tidak peduli dengan kebutuhan utama anaknya? Yaitu kasih sayang yang tulus. Yubin menundukkan kepalanya.

"Mereka hanya fokus dengan uang, uang, uang. Aku tidak butuh uang...aku butuh kasih sayang..."

Suara Yubin mulai bergetar. Ia menahan tangisnya. Ray langsung memeluk Yubin dan mengelus rambutnya. "Tenanglah, Yubin."
Akhirnya airmata Yubin tidak dapat dibendung.

"Maaf aku menangis, kakak," ucap Yubin di sela sela tangisannya.

"Menangislah sepuasmu, Yubin. Kakak tau apa yang kamu rasakan."
Ray masih memeluk Yubin dan menepuk-nepuk pelan punggungnya. Ray mencoba menenangkan Yubin.

"Kenapa kamu tidak membuat surat lalu menyelipkannya di tas kerja mereka?"

Ide liar Ray mulai keluar. Tangisan Yubin mereda. Lalu Yubin menatap Ray tidak yakin.

"Apakah itu ampuh?" Tanya Yubin.
"Coba dulu, siapa tau berhasil," jawab Ray dengan menatap Yubin dengan wajah datar.

Yubin terkekeh melihat ekspresi wajah Ray.

"Kalau tidak berhasil, mau tidak mau kamu harus jujur. Lakukan agar mereka sadar~"

"Tapi aku takut, kak..." Yubin mulai pesimis.

"Jangan takut, kakak akan mendoakan yang terbaik untukmu! YEAH! YUBIN SEMANGAT!!"

Ray mencoba menghibur Yubin walaupun dia sendiri tau, itu garing dan aneh. Dan benar saja, Yubin menatapnya aneh.

Seketika Ray kikuk. "Ahaha baiklah kakak, aku akan mencobanya!" Yubin mengangguk.

"Anak pintar~" Ray mencubit pelan pipi Yubin.

"Hari sudah semakin sore, aku pulang dulu ya kak. Dan terimakasih untuk semuanya. Sampai jumpa lagi~" Yubin melambaikan tangannya ke Ray.

"Sampai jumpa~ Semangat untuk misimu ya, Yubin!" balas Ray. Yubin mengangguk lalu berlari pulang kerumahnya.

"Ah kalau begitu aku juga pulang. Jika manager tau aku terlambat pulang, pasti ia akan memarahiku pfftt" Ray berlari menuju apartemennya.

Hari melelahkan. Namun setidaknya, ia dapat menolong orang lain walaupun remeh. Dan satu hal lagi,
Setidaknya mie ayam bakso masih 7K IDR.



ㅡ THE END ㅡ

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dear Nathan (2017)

THE EXORCIST : House of Devil (2016) – Bertarung dengan Iblis